HAM (human actualized memory)

Disekitar kita begitu banyak orang hebat yang mengagumkan. Mereka memiliki kemampuan diatas rata-rata, sehingga terlihat unggul dari manusia lainnya. Ketika dihadapkan pada suatu pekerjaan atau tugas tertentu, mereka selalu bisa menyelesaikannya dengan lebih baik dari orang lain. Ketika mereka dihadapkan pada situasi sulit tertentu, mereka selalu bisa menangani kesulitan itu dengan lebih baik dari orang lain. Ketika prestasi mereka dievaluasi, track record-nya lebih cemerlang dari kebanyakan orang. Seolah-olah, mereka benar-benar manusia paling ideal untuk pekerjaan yang ditanganinya. Itu membuat kita bertanya; "Mengapa Tuhan memberikan talenta begitu hebatnya kepada dia? Sedangkan kepada saya tidak. Jika saya diberkahi kemampuan yang seperti itu, pasti saya akan berprestasi seperti itu." Benarkah demikian?

Beberapa waktu lalu, saya merasakan bahwa kemampuan laptop saya sudah menurun sangat jauh sekali dari sebelumnya. Padahal, dia menggunakan processor yang pasti memadai untuk mendukung kinerja seorang profesional. Kinerjanya yang semakin memburuk membuat saya tidak mampu menyembunyikan ketidaksabaran ini, sampai-sampai rekan seprofesi saya memergoki dan bilang; "Be patience Setiawan, it is still processing..." katanya. Saya jawab "this laptop has to perform faster if still wants to work with me" . Tapi kecaman saya tidak membuatnya bekerja lebih cepat. Padahal, saya sudah melakukan beberapa benchmarking untuk tuning up performa. Karena waktu saya yang begitu sempit untuk kutak-kutik kaptop, akhirnya saya mengirim memo kepada staff saya, bahwa saya mau laptop tersebut bisa bekerja lebih cepat, jika perlu menggantinya dengan yang baru.

Tak lama kemudian, laptop itupun masuk ke dalam klinik untuk diperiksa para dokter spesialis computer, sebelum kembali ke ruang kerja saya beberapa jam berikutnya. Tahukan Anda, bagaimana kinerjanya sekarang? Wuish, it's running like a flash! Sampai sampai saya terkejut dibuatnya. Sehingga saya tidak sabar untuk bertanya; "booy, loe apain tuch lap top gue?"
Staff saya berkata; "DItambah RAM-nya jadi dua kalilipat, Pak."
"Cuma gitu doank?"
"Iya. Hanya itu." Jawabnya. Saya tahu dia bangga dengan hasil kerjanya. Dan saya sangat menghargai usahanya.
"Loe ganti processornya yaa?!"
"Nggak Pak," katanya. "Masih bagus, kok." Lanjutnya.

Saat itu saya menyadari, bahwa processor adalah potensi atau kapasitas maksimal tentang apa yang bisa dilakukan oleh sebuah computer. Dalam diri manusia, itulah yang biasa kita sebuy sebagai talenta atau bakat, alias kapasitas terpendam dalam diri seseorang. Ini menentukan sampai sejauh mana fungsi computer itu penting saat computer sedang diaktifkan untuk bekerja. Ini mennetukan sampai sejauh mana fungsi computer itu bisa dimaksimalkan. Bagi manusia, fungsi talenta itu penting pada saat kita sedang bekerja atau melakukan suatu aktivitas. Ini menentukan sampai setinggi apa kita bisa berprestasi.

Sekarang, RAM itu apa? Mengapa meningkatkan RAM dua kali lipat bisa menaikkan kinerja processor computer itu sedemikian bermaknanya? RAM adalah sebuah playing ground. Tempat dimana file-file ditarik dari hard disk dan siap diaktifkan, dioperasikan, diolah, dieksekusi, ditambah gambar ini dan itu. Meskipun kemampuan processornya tinggi, namun jika RAM-nya terlampau kecil untuk menampung file-file yang sedang diaktifkan, maka kinerja computer itu akan menjadi sangat buruk. Dia tidak bisa menjadi computer canggih. Manusia juga demikian. Meskipun talentanya besar, potensi dirinya tinggi, namun, jika kapasitas playing ground-nya terlampau kecil untuk menampung seluruh potensi diri tu, maka kinerjanya akan buruk juga. Dia tidak akan bisa menjadi manusia unggul.

Ngomong-ngomong, bukankah kita seringkali berbangga hati dengan menyebutkan bahwa; " manusia adalah super computer?" Jika klain itu benar adanya, bukankah seharusnya kita bisa lebih hebar dari komputer tercanggih sekalipun? Mungkin itu benar jika konteks yang kita maksud adalah talenta atau potensi diri yang kita miliki. Sebab, kita percaya bahwa kemampuan otak kita saja konon baru digunakan tidak sampai 5% saja. Tetapi, jika kita berbicara tentang actualized individual potential, maka kita harus bertanya ulang. Mengapa? Karena, kita sudah bertemu dengan begitu banyak orang yang sesngguhnya sangat berbakat, namun pencapaiannya tidak sampai kemana-mana. Sebab, orang-orang ini telah membiarkan playing ground-nya menjadi begitu kecil.

Pertanyaannya sekarang adalah; bagaimana caranya memperbesar playing ground diri kita? Ada banyak cara. Satu, melatih diri untuk sesuatu yang lebih tinggi. Berapa banyak dari kita yang bersedia menantang diri sendiri untuk menguasai keterampilan-keterampilan baru? Kenyataannya kita sudah cukup puas dengan kemampuan yang kita miliki saat ini. Melatih diri untuk sesuatu yang baru itu menguras tenaga, membutuhkan waktu, dan memerlukan komitmen. Mengapa kita harus bersussah payah begitu jika kita sudah puas dengan keadaan sekarang?

Dua, meninggalkan comfort zone. Ada banyak peluang baru dalam jarak setengah sentimeter dari diri kita. Namun, untuk meraihnya kita harus bersedia keluar dari zona kenyamanan kita. Mungkin kita harus meninggalkan kestabilan menuju kepada hal yang tidak menentu untuk sementara waktu. Kita perlu menyesuaikan diri kembali. Kita harus merevisi asumsi-asumsi diri. Dan banyak hal lagi yang mesti kita ubah. Tetapi, berapa banyak dari kita yang bersedia meninggalkan comfort zone seperti itu? Jika kondisi sekrang sudah membuat kita enak, mengapa kita harus meninggalkan kenyamanan ini untuk sesuatu yang beresiko dan penuh teka teki?

Tiga, bersedia membayar harganya. Ketika kita melihat orang lain berprestasi tinggi, seringkali kita hanya melihat hasil akhirnya saja. Yaitu, berupa pencapaian hebat orang itu. Lalu, kita berkata; "Beruntungnya dia. Tuhan telah berbaik hati memberinya talenta yang hebat." Kita tidak pernah tahu bahwa orang itu telah selama bertahun-tahun mengurangi jam tidurnya. Membuang kesenangannya bermain-main dengan game computer yang menyita begitu banyak waktu, tenaga dan biaya itu. Memeras pikirannya, memaksa diri untuk berdisiplin tinggi dan hanya berfokus kepada hal-hal yang akan membawanya kepada peningkatan kualitas diri secara progresif.

Kita tidak pernah mengetahui semua kerja keras yang dilakukan oleh orang itu. Karena kita terlampau silau oleh hasil akhir yang dicapainya, sambil sesekali menelan udah. Yang sebenarnya terjadi adalah; "Hanya setelah orang itu bersedia membayar semua harganya sajalah, dia baru bisa sampai kepada pencapaian itu." Lagipula, kalau pun kita taji pahit dan sulit serta terjal berlikunya jalan yang harus dia tempuh, belum tentu kita mau mengikuti jejak langkahnya, oder? Padahal ketiga hal itulah yang sesungguhnya telah berhasil menjadikan playing ground-nya menjadi semakin besar. Sehingga kapasitas dirinya juga menjadi semakin besar, semakin besar, dan semakin membesar. Sehingga tidak heran jika orang itu bisa meninggalkan manusia-manusia kebanyakakan jauh dibelakangnya.

Jika dalam komputer kita menyebutnya RAM, bagaimana dengan manusia? Bolehkan saya menyebutnya sebagai HAM? Ya, HAM - Human Activated Memory. Yaitu, memory yang tersimpan dalam diri kita, yang bisa kita gunakan untuk berurusan dengan hal-hal yang kita hadapi secara spontan. Memori itu berbahan dasar talenta. Yaitu, potensi yang tersimpan di dalam diri kita. Betul-betul dilatih dan diolah sampai menjadi kemampuan actual. Sehingga, kapan saja kemampuan itu dibutuhkan, kita bisa memanggil dan mendayagunakannya dengan spontan.

Anda boleh saja mengklaim diri berbakat bermain piano, misalnya. Tapi, jika bakat itu tidak diasah dengan sungguh-sungguh, maka klaim Anda hanya akan menjadi bualan belaka. Permainan piano Anda tetap saja jelek. Anda boleh saja mengklaim bahwa diri Anda lah yang paling layak mendapatkan promosi itu, bukan pesaing Anda. Karena Anda mengira bahwa Anda lebih senior, lebih pintar, lebih rajin. Tapi, jika klaim Anda itu tidak didukung oleh kapasitas actual yang bisa Anda tunjukkan, maka Anda tetap saja akan menjadi individu jelek. Dan hati Anda juga jelek, karena dipenuhi oleh rasa iri.

Anda juga boleh menganggap diri sendiri kurang berbakat. Jadi, wajar saja jika pencapaian Anda biasa-biasa saja. Anda tidak dilahirkan untuk mnjadi pemenang, karena Tuhan memberi Anda begitu banyak keterbatasan.

Hey, Steht auf mann!!Tidak ada manusia yang dilahirkan tanpa keterbatasan, dan tidak ada manusa yang dilahirkan tanpa membawa pesan dan seoles kemampuan. Wake up and realize that YOU, don't need to be a perfect person to succeed. YOU just need to accept yourself just the way you are. And start to enlarge your own playing ground. Your Human Actualized Memory (HAM). Would you?

Published for STUFEN EDUCATION's class, by: Ir. Heri Setiawan, M.Sc, BA-Eng
Thanks to: Mr. Dadang Kadarusman for your "experience sentences" & Ahmad Syamil, Ph.D, CFPIM, CIRM, CSCP to share your gratefully knowledge.
Reposted by: STUFEN EDUCATION's Workshop